Post Top Ad

Your Ad Spot

Tuesday, April 19, 2016

komponen PHT, Pengelolaan Hama Terpadu

Komponen PHT
1.      Perlindungan Tanaman
Perlindungan tanaman adalah salah satu usaha atau cara pengendalian organisme pengganggu tanaman ( OPT) di sekitar area pertanian dimana pengendalian ini dilakukan tanpa menganggu keseimbangan ekosistem dan pengendalian dilakukan untuk menekan jumlah populasi hama agar tetap berada pada kondisi di bawah ambang ekonomi.organiisme pengganggu tanaman ( OPT) dapat di kelompokkan menjadi 3 bagian yaitu, hama ( binatang Vertebrata dan Invertebrata) penyakit ( Mikroplasma, Virus, Bakteri, dan jamur) dan gulma ( rumput rumputan dan gulma berdaun lebar) keberadaan OPT tersebut sangat besar perananya di bidang pertanian karna dapat mengganggu keberlansungan hidup tanaman, hasil panen dan bahkan dapat mengakibatkan kematian pada tanaman.
Dalam kegiatan peningkatan produksi pertanian banyak hal yang menjadi kendala yang sangat serius dan sering di hadapi oleh petani, antara lain yang menjadi ancaman serius adalah keberadaan OPT yang dapat mengakibatkan penurunan hasil panen, kerusakan tanaman dan bahkan dapat mengakibatkan kematian pada tanaman budidaya, keberadaan OPT di dalam suatu ekosistem pertanian merupakan dampak yang terjadi akibat aktifitas manusia yang mengakibatkan keseimbangan ekologi terganggu, misalnya saja pemakaian bahan kimia pertanian yang berlebihan, berkelanjutan dan tidak terkontrol. Hal ini mengakibatkan kematian dari berbagai jenis serangga predator yang mengakibatkan melonjaknya populasi hama tertentu karna di alam tidak lagi ada serangga predator yang mengendalikanya secara alammi, atau bisa jadi karna kematian atau hilangnya populasi serangga hama di suatu ekosistem yang mengakibatkan atau berdampak juga terhadap ketersediaan makanan organisme serangga pemangsa dan akhirnya predator atau pemangsa ini akan kekurangan makanan dan hilang dari ekosistem tersebut, dan pada saat terjadi atau populasi serangga hama meningkat sewaktu waktu maka karna serangga predator untuk hama tersebut sudah tidak ada maka dapat di pastikan populasi serangga hama tersebut juga akan meningkat.
Pengendalian OPT pada suatu ekosistem pertanian harus mengarah atau berpegang pada prinsip bahwa system pengendalian pada suatu wilayah adalah efektif dan efesien dan berwawasan lingkungan, konsep pengendalian yan dikombinasikan dari berbagai cara dan di kembangkan secara luas yaitu sebagai suatu siste, pengelolaan populasi hama yang menggunakan semua tehnik yang sesuai dan kompetible ( saling mendukung) untuk menurunkan populasi serangga hama sampai pada tingkat di bawah ambang  ekonomi ( AE) yang dimana sistem ini di kenal dengan sistem pengelolaan hama terpadu ( PHT). PHT adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan berbagai tehnik pengendalian yang kompetible dan di kembangkan dalam suatu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan.
PHT dalam penerapanya di lapangan memiliki 8 komponen yang di gunakan adapun kelapan komponen PHT tersebut adalah :
1.      Pengendalian Fisik
Pengendalian fisik merupakan usaha menggunakan atau mengubah factor lingkungan fisik sehingga dapat menimbulkan kematian dan mengurangi populasi hama, kematian hama dapat terjadi akibat dari rekayasa factor fisik lingkungan seperti suhu, suhu, suara yang digunakan sibawah batas toleransi hama, batas toleransi yang dimaksud adalah batas toleransi terendah dan batas toleransi tertinggi seranngga hama, hal ini di dasarkan pada umumnya  setiap serangga memiliki batas toleransi terendah dan batas toleransi tertinggi untuk dapat hidup di lingkungan dengan kondisi tertentu, beberapa tindakan pengendalian yang termasuk kedalam pengendalian secara fisik antara lain adalah:
a.     Pemanasan
b.     Pembakaran
c.     Pemanasan dengan energy radio-frekuensi
d.    Pendinginan
e.     Pembasahan
f.      Pengeringan
g.     Lampu perangkap
h.     Radiasi sinar inframerah
i.       Gelombang suara
j.       Penghalang

2.      Pengendalian Hayati
Pengendalian hayati pada dasarnya merupakan pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan populasi serangga hama, pengendalian hayati sangat dilandasi akan pemahaman dasar ekologi terutama teori pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan dinamis ekosistem musuh alami yang di gunakan dalam pengendalian hayati ini antara lain adalah parasitoid, predator, dan pathogen, yang dimana ketiganya merupakan pengendali hama secara alami, dan dapat dipastikan keberadaan musuh alami ini tergantung pada populasi serangga hama. Peningkatan populasi hama yang menimbulkan kerugian bagi petani antara lain disebabkan oleh keadaan lingkungan yang kurang memberi kesempatan musuh alami untuk melakukan pengendalian sebagaimana fungsinya..
Peraktek pengendalian hayati sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu di daratan cina namun keberhasilan pengendalian hayati pertama kali yang tercatat adalah di California yaitu yang di teerapkan pada tanaman kapas Iecerya purschasi untuk mengendalikan serangan hama kutu bantal, dengan mengintroduksi atau mendatangkan serangga predator dari Australia, yaitu kumbang vedalia di Indonesia sendiri pengandalian hayati dengan menggunakan musuh alami sudah banyak di lakukan terutama sebelum tahun 1950an yang dimana pestisida belum semudah sekaarang untuk di temukan, contohnya adalah pengendalian belalang pedan atau hama Sexava spp. yang menyerang tanaman kelapa dan berhasil di kendalikan dengan menggunakan parasitoid telur  Leefmansia bicolor  kegiatan pengendalian ini terjadi di Sulawesi utara,
3.      Pengendalian Kimiawi
Pestisida merupakan bahan kimiawi yang dalam sejarah manusia telah memberikan banyak jasa bagi keberhasilan di banyak pengendalian hama, pestisida dapat membantu menekan tingkat kehilangan hasil panen yang biasanya di sebabkan oleh serangan hama dan penyakit, karna keberhasilan pestisida tersebut dalam menjaga keberhasilan panen maka seolah olah keberadaan pestisida tidak dapat di pisahkan dari dunia pertanian, hal ini dapat diamati dari reaksi petani apabila pertanianya mendapat serangan hama maka hal pertama yang di fikirkan adalah pestisida dimana dapat memperolehnya harganya dan mereknya.
            Sebenarnya penggunaan bahan kimia untuk membunuh atau mengendalikan serangga sudah di kenal pada abad 1 sesudah masehi dengan adanya penggunaan bahan arsen oleh bangsa yunani dan bangsa cina untuk mengendalikan hama, namun penggunaan bahan kimia di dunia modern dimulai pada tahun 1867 ketika paris green untuk pertama kalinya di USA untuk membantas kumbang kentang Colorado ( Leptinotarsa decemplineata). Sampai tahun 1939, kebanyakan pestisida merupakan senyawa senyawa anorganik. Namun setelah insektisida sintetik organic di temukan yaitu DDT pada tahun 1940-an seolah terjadi revolusi pestisida karna banyak pestisida baru  di temukan dan di ciptakan dan akhirnya pestisida menyebar hingga keseluruh dunia, banyak pabrik pestisida didirikan banyak jenis pestisida baru di temukan dan digunakan oleh para petani, namun dari semua keberhasilan pestisida dalam menanggulangi serangga hama dan penyakit, akibat pemakaian pestisida secara terus menerus dan tidak ada control maka serangga hama akibatnya beradaptasi dengan pestisida yang mengakibatkan munculnya hama yang resisten terhadap bahan kimia, dan jauh dari itu keberadaan pestisida juga mencemari lingkungan, akibat hal ini mulai lah timbul kesadaran masyarakat sehingga pestisida di control dengan sedemikian rupa dalam aplikasinya.

4.      Pengendalian dengan Varietas Tahan
Pengendalian hama dengan menanam tanaman yang tahan terhadap serangan hama sudah lama dilakukan, pengendalian ini merupakan pengendalian yang murah, efektif dan kurang berbahaya bagi lingkungan, sampai saat ini penanaman padi tahan hama wereng coklat telah berhasil mengendalikan hama wereng coklat di Indonesia. Sejak tahun 1970 wereng coklat sudah menjadi hama tanaman padi yang sangat penting di Indonesia, petani telah mengenal dan menanam banyak tanaman VUTW ( varietas unggul tahan wereng) yang dikembangkan oleh para peneliti IRRI ( Filipina) dan Indonesia penggunaan tanaman varietas tahan selain padi masih terbatas karna belum tersedianya varietas tanaman yang tingkat ketahanya tinggi  terhadap serangan hama  hama tertentu
Sejak akhir abad ke – 18 dalam permulaan abad ke 19 tehnik tanaman tahan hama untuk pengendalian hama telah di kenal dan di kembangkan di amerika serikat. Tahun 1972 diketahui bahwa varietas gandum Underhill lebih tahan terhadap serangan hama lalat hasian ( Mayetiola destruduktor) dibandingkan dengan varietas varietas gandum lainya keberhasilan tanaman tahan terhadap hama pertama kali terjadi di abad ke 19 di perancis dan negara negara eropa lainya pada saat itu industry anggur di eropa terancam bangkrut karna tanaman anggur di serang oleh hama Phylloxera vitifolia di ketahui bahwa tanaman anggur sangat peka terhadap serangan hama ini setelah di ketahui bahwa di amerika terdapat varietas anggur yang tahan terhadap serangan hama ini maka petani anggur eropa menanam anggur varietas Vitis spp yang berasal dari amerika dan tahan terhadap serangan hama Phylloxera vitifolia.
Namun di permulaan  abad ke 20 perkembangan tehnik pengendalian ini sangat lambat, namun berkat teori teori ketahanan hama di letakkan oleh Reinald H. Painter dari Kansas university amerika serikat. Pada tahun 1951 beliau menulis buku yang berjudul Insect Resistence in Crops dan berdasarkan teorinya ini penemuan dan pengembangan berbagai jenis varietas tahan dapat di ciptakan.
5.      Pengendalian Kultur teknis atau pengendalian secara bercocok tanam
Yaitu pengendalian OPT dengan cara mengelola lingkungan/ ekossistem sedemikian rupa sehingga ekosistem tersebut  menjadi  kurang  cocok bagi kehidupan dan perkembangbiakan hama, hal ini dapat mengurangi laju peningkatan populasi & kerusakan tanaman. Beberrapa Macam pengendalian secara kultur teknis :
a)         Pengolahan/pengerjaan tanah
Ditujukan terhadap hama yang dalam siklus hidup mempunyai fase di dalam tanah. Pengolahan tanah setelah panen larva-larva hama yang hidup di dalam tanah akan mati terkena alat-alat pengolahan seperti cangkul. Di samping itu akibat lain dari pengolahan tanah ini akan menaikkan larva dan telur dari dalam tanah ke permukaan tanah. Dengan demikian larva-larva dan telur larva akan dimakan burung atau mati terkena cahaya matahari langsung. Contoh:
·Pengeringan air sawah selama beberapa hari dapat menyebabkan larva hama putih, Nymphula depunctalis (Lepidoptera: Pyralidae) yang berada dalam gulungan daun akan mati. Penggenangan sawah selama beberapa saat dapat memaksa larva ulat grayak, Spodoptera maurita (Lepidoptera: Noctuidae) berada di atas tanah pada siang hari sehingga memudahkan untuk mengumpulkannya.
b) Sanitasi
Pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman terdahulu atau gulmanya dan pencabutan tanaman terserang. Dengan membersihkan tempat-tempat yang kemungkinan digunakan oleh serangga untuk berkembang biak, berlindung, berdiapause, maka perkembangan serangga yang menjadi hama tanaman dapat dicegah. contoh :
Membersihkan tunggul-tunggul jerami segera setelah panen atau memotong tunggul tersebut persis di permukaan tanah dapat mengurangi populasi penggerek batang padi putih, Scirpophaga innotata (Lepidoptera, Pyralidae) pada masa berikutnya. Bisaanya penggerek batang padi putih berdiapause selama musim kemarau pada tunggul-tunggul jerami tersebut.  Walang sangit, Leptocorisa acuta (Lepidoptera, Alydidae) akan lebih cepat berkembang apabila sanitasi lingkungan kurang baik.
c) Pemupukan
Penggunaan pupuk menjadikan tanaman sehat dan lebih mudah mentoleransi serangga hama tanaman.Pemupukan yang berimbang dengan kebutuhan tanaman antara N, P, K dan unsur-unsur mikro → tanaman sehat → tahan serangan hama. contoh :
Untuk mengendalikan hama putih palsu, Cnaphalocrosis medinalis (Lepidoptera: Pyralidae) dan hama ganjur Orseolia oryzae (Diptera: Cecidomyiidae) pada tanaman padi di antaranya adalah dengan mengurangi dosis pupuk nitrogen atau melakukan pemupukan yang seimbang antara nitrogen, pospat, dan kalium.
d) Tanam serempak
 Harus dilaksanakan di areal yang cukup luas, minimal satu hamparan dengan golongan air yang sama,karena untuk membatasi perkembangbiakan serangga hama. Penanaman serentak dimaksudkan agar ketersediaan bahan makanan untuk hama menjadi lebih singkat dan pada suatu saat pertanaman tidak ada populasi hama dan populasi hama da e) Rotasi/pergiliran tanaman Menanam tanaman yang berbeda-beda jenisnya dalam satu tahun dapat memutus atau memotong daur hidup hama terutama hama yang sifatnya monofagus (satu jenis makanan).Tujuannya adalah untuk memutuskan siklus hidup hama tertentu. Caranya jangan menanam spesies tanaman yang menjadi inang dari hama tertentu. Contoh:
Wereng coklat, Nilavarpata lugens (Homoptera: Delphacidae) hanya dapat hidup dengan baik pada tanaman padi. Jadi, untuk memutus siklus hidupnya dapat dilakukan pergiliran tanaman bukan padi, atau sawah dibiarkan bebas satu sampai dua bulan setiap tahunnya.
Padi --) Kacang-kacangan --) Padi
Hama pada padi bukan hama pada kacang-kacangan.
f) Tanaman perangkap
Tanaman perangkap adalah tanaman yang sengaja ditanam untuk menarik dan memusatkan hama pada tanaman tersebut untuk kemudian dikendalikan dengan pestisida Contoh :
·kacang hijau dan jagung yang di tanam diantara tanaman kapas dapat mengurangi populasi Sundapteryx dan Heliothis sp. Pada tanaman kapas.
Tanaman jagung dipergunakan sebagai tanaman perangkap untuk mengendalikan serangga hama penggerek kuncup dan buah kapas, Helicoperva (Heliothis) armigera (Lepidoptera: Noctuidae). Rambut tongkol jagung sangat menarik ngengat serangga tersebut untuk meletakkan telurnya, sehingga sebagian besar populasi serangga hama tersebut akan berada pada pertanaman jagung. Jagung ditanam dua baris diantara 12 baris tanaman kapas yang berjarak 50×50 cm. Agar cara tersebut berhasil, maka sewaktu tanaman kapas berbunga sampai mulai berbuah, tanaman jagung telah keluar tongkolnya. Setelah serangga hama ini berkumpul pada tanaman jagung (tanaman perangkap), segera dibabat agar serangga hama ini tidak kembali lagi ke tanaman kapas (tanaman utama). Dilaporkan teknik ini dapat mengurangi kerusakan buah kapas sampai 35% pada umur 75 hari setelah tanam.
g). Pengaturan Jarak Tanam
 Jarak tanam sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan juga terhadap populasi hama per unit waktu. Serta berpengaruh terhadap perilaku hama dalam mencari makan dan tempat bertelur. Hasil penelitian di IRRI terlihat bahwa jarak tanam padi yang lebar sangat menurunkan populasi wereng coklat (Nilaparvata lugens ) pat dihambat.
6.      Pengendalian Mekanik
Pengendalian secara mekanik bertujuan untuk mematikan atau memindahkan serangga hama baik dengan tangan ataupun dengan bantuan alat lain caranya cukup sederhana dan dapat dilakukan oleh semua orang tetapi memerlukan tenaga yang banyak, biaya yang cukup mahal dan harus dilakukan secara terus menerus bila tidak maka efisiensi dan efektifitas pengendalian ini akan rendah, untuk meningkatkan efisiensi pengendalian ini maka perlu di pelajari fenologi hama, perilaku hama dan makanan hama dengan demikian maka dapat di tentukan waktu pengendalian dan fase hidup derangga yang menjadi sasaran. Ada beberapa tehnik pengendalian mekanik yang sering dilakukan dalam peraktek pengendalian hama, antara lain adalah :
a.          Pengambilan dengan tangan
Cara ini merupakan tehnik yang paling sederhana dan murah kususnya di daerah yang banyak tenaga kerja, fase hidup hama yang di kumpulkan dan di bunuh adalah fase yang mudah di temukan seperti larva dan telur. Pengendalian ini telah sukses dilaksanakan pada musim hujan di tahun 1990/1991 di daerah pantai utara jawa barat untuk pengendalian hama penggerek batang padi putih ( schirpophaga innotata) Selain pengumpulan pada fase hama dapat juga dilakukan dengan pengumpulan bagian tanaman yang di serang hama

b.         Gropyokan
Dengan membunuh tikus yang sedang berada di dalam liang atau yang berada diluar sarang tikus di bunuh secara langsung dengan menggunakan cangkul dan alat pemukul agar berhasil gropyokan harus dilakukan pada saat sawah sedang tidak ada tanaman atau pada masa bero gropyokan harus dilakukan secara massal dan dengan kordinasi yang baik antara pemerintah daerah petugas lapangan, petani dan masyarakat umum dan gropyokan sendiri harus dilakukan secara terus menerus walau pada saat kondisi populasi tikus sedang rendah.
c.          Memasang perangkap
Serangga hama di perangkap dengan berbagai jenis alat perangkap yang di buat sesuai dengan jenis hama dan fase hama yang akan ditangkap alat perangkap diletakkan pada bagian atau tempat yang sering di lewati oleh hama, namun sering juga perangkap di letakkan dan di beri dengan senyawa kimia yang dapat menarik hama seperti zat atraktan

d.         Pengusiran
Sasaran penggusiran adalah untuk mengusir hama yang sudah berada di tanaman atau hama yang sedang menuju ke daerah pertanaman, petani sering memasang patung patung yang terbuat dari kertas yang berwarna warni untuk mengusir hama burung di sawah, dan juga membuat suara suara gaduh yang semuanya bertujuan untuk menakut nakuti serangga hama sehingga pergi dan menjauh dari tanaman.
e.Cara cara lain
Beberapa cara pengendalian mekanik lain yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis hama, bentuk tanaman, bagian tanaman yang terserang dan fase hidup hama yang menyerang tehnik tehnik lain disini termasuk menggoyang goyangkan pohon menyikat, mencuci, memisahkan bagian tanaman terserang, memukul dan menggunakan alat penghisap serangga dll.
7.         Pengendalian dengan peraturan perundang undangan/karantina
Secara alami penyebaran hama dan penyakit tumbuhan di muka bumi sudah tersebar dan di batasi oleh factor geografis, klimatologi, dan ekobiologis, sehingga sangat kecil kemungkinan jika suatu serangga hama khas suatu daerah tertentu dapat menyebar ke daerah lain yang lokasinya sangat berjauhan dan kondisi ekosistemnya juga berbeda, penyebaran hama ke tempat lain dapat terjadi melalui kegiatan manusia baik yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja, semakin buruknya hubungan antar negara dapat menjadi pemicu keberadaan suatu hama yang sangat merugikan untuk daerah tersebut, keberadaan hama ini biasa jadi di sengaja di masukkan ke dalam daerah tersebut atau bisa jadi juga tidak di sengaja, biasanya kejadian ini terjadi karna tidak adanya pemeriksaan yang dilakukan terhadap hama tersebut, misalnya tingkat bahayanya, ekosistem yang sesuai atau tidak tanaman sasaran serangan dan yang lainya.
Tujuan adanya karantina di Indonesia sendiri adalah untuk mencegah suatu spesies serangga baru masuk ke dalam wilayah Indonesia atau sebagian wilayah Indonesia, hama penyakit yang memasuki ekosistem baru biasanya sangat eksplosif menyebar dan meluas secara cepat dan dapat merugikan petani dan masyarakat umum.contoh kasus penyebaran hama penyakit yang masuk ke Indonesia adalah :
1.      Penyakit karat kopi ( Hemelia vastatrix) yang terbawa benih benih dari srilanka ke pertanaman kopi Indonesia pada abad ke 19
2.      Penyakit cacar daun teh ( Exobasidium Vexans) yang terbawa benih dari india dan meluas ke sumatera utara dan menyebar ke jawa barat pada tahun 1949
3.      Citrus Vein Phloem Degeneration  yang menyerang tanaman jeruk di garut pada tahun 1960an
4.      Kumbang Trogoderma granarium di temukan di jawa menyerang hasil pertanian yang di simpan di gudang pada tahun 1980an
5.      Siput afrika ( Achatina fulica) yang sebelumnya sebagai binatang peliharaan dan akhirnya menyerang tanaman sayuran di Indonesia

6.      Gulma eceng gondok ( Eichornia crassipes) yang sebelumnya sebagai tanaman hias namun sekarang sudah menyebar ke seluruh Indonesia dan mencemari perairan.

No comments:

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages