Post Top Ad

Your Ad Spot

Wednesday, October 4, 2017

Keindahan Stalaktit dan Stalakmit di Goa Ulu Lau, Jinabun, Tanah Karo Sumatera Utara


        Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. dengan ibu kota Kabupaten adalah Kabanjehe, Tanah Karo sendiri merupakan daerah dataran tinggi dengan ketinggianya  berada antara 600 Mdpl sampai dengan 1.400 Mdpl. terletak pada daerah dataran tinggi menjadikan kabupaten ini kaya akan objek wisata alam, mulai dari gunung, danau, air terjun, dan Goa semuanya dimiliki oleh tempat ini, namun beberapa lokasi wisata alam yang ada di tempat ini masih belum banyak yang diketahui oleh masyarakat luas, dengan kata lain beberapa objek wisata itu hanya diketahui oleh masyarakat sekitar tempat itu.
         Dan kali ini saya akan berbagi cerita tentang salah satu objek wisata alam yang dimiliki oleh Tanah Karo yang belum banyak diketahui dan belum banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik wisatawan lokkal maupun mancanegara, gimana bisa diketahui  saya saja yang dari kelas 1 SMP berada di sekitar tempat ini tidak begitu familiar dengan tempat yang satu ini, gimana yang dari luar y ga..?
hehe.. hehe....
Ok.. kita akan bererita tentang keindahan suatu tempat yang bersembunyi jauh dibawah permukaan ditanah karo, apa itu...?, hahha... hahahah.. pasti muncul pertanyaan itu bukan..?

        Tempat itu merupakan sebuah Goa, masyarakat sekitar menyebutnya ''Goa Ulu Lau'' (Mata air dalam bahasa Indonesia), awalnya rencana untuk mengunjungi tempat ini juga sesungguhnya tidak terencana, dan terjadi begitu saja, semuanya berawal dari diskusi ringan dengan salah satu om dari ibu ane (bahasakaro dipanggil ''MAMA''), pada saat ada acara adat yaitu pesta panen (''Kerja Tahun'' dalam bahasa karo) waktu itu kalau tidak salah si kita cerita tentang salah satu tempat yang baru beberapa hari yang lalu saya kunjungi yakni, salah satu Goa yang sudah lumayan banyak dikenal oleh para penikmat Alam di Tanah Karo.
            Dan saat itu si Om ane ini bertanya sama ane pernah dengar nama tempat di kampung kita Goa ulu lau..? tanya Om ane, sontak saja pertanyaan itu mengundang rasa penasaran dalam diri ane, dengan rasa ingin tau yang besar ane menjawab pertanyaan itu, Gak pernah om... emang itu tempat apa..? lanjut saya kembali menimpali pertanyaan saya yang sebelumnya, (kira kira dalam bahasa indonesia begitulah percakapan ane dengan Om ane, soalnya kita ngmgnya pake bahasa daerah yaitu Bahasa Karo) lanjut lagi om saya menjelaskan kalau tempat itu sebuh Goa, yang jika menurut penuturanya masih jarang dikunjungi oleh wisatawan, hal ini mungkin dikarenakan oleh informasi akan tempat it belum banyak diketahui oleh masyarakat diluar kampung tersebut.
            Dia bercerita kalau nama tempat itu adalah Goa Ulu Lau, hal ini diakibatkan karena dari dalam goa tersebut merupakan aliran sungai yang katanya, salah satu sungai yang lumayan besar debit airnya (sungai Lau Mbelin) atau dalam bahasa indonesia ''Lau Mbelin'' artinya ''Air Besar'' mata airnya berada di dalam gua tersebut, dan dia menyarankan agar ane mencoba untuk mengunjunginya, dan dengan rasa ingin tau yang besar akan tempat itu saya mulai melancarkan beberapa pertanyaan kepadanya untuk mendapatkan beberapa informasi tentang tempat itu.
Tanpa terasa malam sudah semakin larut dan ane memutuskan untuk kembali kerumah, sesampainya dirumah ane kembali meluncurkan beberapa pertanyaan kepada ibu ane, yang memang berasal dari kampung tersebut, namun ibu ane mencoba untuk memutuskan niat ane untuk mengunjungi tempat itu dengan beberapa cerita mistis yang dimiliki oleh tempat tersebut.
        Namun dengan berdasar akan keinginan yang kuat dan didukung oleh fikiran yang bersih saya tetap kekeh untuk mengunjunginya, malam sudah semakin larut, ane menoba membaringkan badan dalam peristirahatan ane, namun bayang bayang tempat itu masih melayang dikepala ane, bayang keindahan akan tempat itu masih menari difikiran ane, dan dipagi harinya, ane mencoba menghubungi sepupu ane yang selama dikampung merupakan duat ane untuk mengunjungi beberapa tempat, dan kita memutuskan untuk mengunjungi tempat itu di besok harinya, sambil terus mencari informasi akan tempat tersebut, juga mencoba menghubungi beberapa teman yang bisa menjadi penunjuk jalan ke tempat tersebut.
      Akhirnyaa, petualangan dimulai, dengan bermodalkan senter sebagai penerangan, maklum namanya masuk gua, biar diluar terang akan tetapi di dalamnya pastinya gelap dong, dan kita juga mempersiapkan sepatu, karna didalam nantinya batuanya pasti tajam, dan jalanan juga otomatis licin, dan sebuah topi, maklum kita gak memiliki perlengkapan yang lebih seperti helm dan sejenisnya.
     Pagi hari kira kira pukul 11 kita mulai perjalanan ke tempat tersebut, perjalanan kita hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit saja menggunakan sepeda motor ke desa tujuan, namun dari desa tujuan kita masih harus melanjutkan perjalanan ke tempat tersebut, namun karena akses jalan yang sudah ada kita bisa menggunakan kendaraan seperti sepeda motor untuk dapat mencapai tempt Goa itu berada.

          Kira kira jam 12:30 kita sudah sampai di tempat tersebut, dan sebelum melakukan petualangan, terlebih dahulu kita sempatkan untuk memanjatkann doa kepada sang kuasa untuk kiranya perjalanan ini nantinya akan berjalan baik. sehabis berdoa kita memulai perjalanan. namun pada saat akan melakukan penelusuran akan tempat ini salah satu teman yang juga Om saya, mulai mencari cari lokasi mulut Goa, yang memang tersembunyi dibalik rimbunya pepohonan yang ada ditempat tersebut. dan saya mulai berfikir kalau tempat ini pastinya masih alami karna begitu lebat pepohonan yang tumbuh di mulut goa tersebut, yang artinya tempat ini masih jarang dikunjungi.
          Dari kejauhan temen yang penunjuk Jalan mulai memanggil yang menandakan mulut Goa sudah ditemukan, dan begitu sampai di mulut Goa saya mulai bingung karena Pintu untuk memasuki goa yang satu ini agak berbeda dengan Goa yang sebelumnya ane kunjungi, dimana keadaan  mulut Goanya sangat kecil, dan untuk bisa masuk kedalam kita harus merangkak dan berjalan mundur, namun temen ane menuturkan bahwa walaupun mulut Goa tersebut bisa dibilang sangat kecil namun uniknya sebesar apapun orang yang masuk maka akan muat untuk kedalam, (ok.. nuansa mistis sudah mulai terasa) namun hal itu bukan membuat kami takut tentunya malah menjadi salah satu daya tarik yang menurut saya sangat menarik.

Mulut Goa

        Sesampainya didalam Goa pemandangan indah mulai terlihat jejeran stalaktit stalakmit mulai menyapa kami, ruangan yang lumayan luas dengan ukuran kira kira 10x15 meter mulai menyapa kami, sambil merengsek masuk kami mulai menikmati setiap keindahan itu, walau dengan kondisi air yang sampai selutut antusias kami untuk menyusuri tempat tersebut tak kunjung surut.
          Udara yang dingin dan lembab mulai terasa menusuk kulit namun rasa ingin tau lebih membuat hal itu semuanya tak menjadi gangguan buat kami, batuan stalaktit dan stalakmit yang masih terjaga dan tumbuh banyak hal ini kalau menurut perkiraan saya diakibatkan oleh aliran air. soalnya yang ane ketahui si stalaktit itu terbentuk akibat aliran air yang berada di langit langit sebuah goa mengikis batuan yang akhirnya menciptakan stalaktit, begitu jua dengan setalakmit yang juga disebabkan oleh jatuhan air dari langit langit Goa.

Stalaktit

        Si pemandu mulai menceritakan jika sebelumnya pernah ada seorang ilmuan dari benua Eropa yang mencoba untuk menguji sampel batuan tempat tersebut, yang dimana menurut penuturan dari teman ane ini si kalau batuan tersebut mengandung mineral intan, iya intan jika ane tidak salah ingat hahah...hahah... namun sampai sekarang hal itu katanya tidak ada kejelasan..

Stalakmit


          Di perjalanan teman ane ini menunjukkan sebuah bongkahan batu yang mirip seekor buaya, dan setelah saya amati cukup lama ya memang agak mirip seekor buaya, dan di samping kanan saat perjalanan juga terdapat sebuah batu yang bentuknya hampir sama seperti sebuah tempat duduk. lorong Goa masi terus kita kunjungi dan sesekali saya berhenti untuk mengabadikan keindahan tempat tersebut, namun diakhir perjalanan kita agak terhambat karena kondisi air yang yang dalam maka kita mencoba menyusuri ruang yang lebih kecil dan di dalamnya terdapat sarang kelelawar, dengan hati hati kita menyusuri tempat tersebut, sampai akhirnya posisi ruang yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan dan terpaksa kita berhenti, hal ini diakibatkan karena ruang tersebut sudah semakin kecil dan sangat sulit untuk memasukinya.
        Diujung lorong gua tersebut kita berhenti sejenak dan mulai bercerita akan tempat tersebut, mulai dari cerita mistis, sampai lokasi lain yang memiliki tempat seperti tempat tersebut, puas bercerita kita memutuskan untuk kembali. sambil menusuri ruangan didalam gua tersebut dan sambil menikmati keindahan stalaktit stalakmit tentunya saya tidak lupa mengabadikan gambar. saya mulai bertanya tentang kemungkinan suatu saat nanti  tempat ini akan dikunjungi banyak orang, dan saya menyarankan agar tempat ini dikelola oleh karang taruna desa tersebut, dan jika bisa saya menuturkan lebih jauh buat beberapa aturan memasukinya, dan yang paling penting adalah masalah sampah. mengingat salah satu Goa yang baru ane kunjungi Tempat tersebut sangat kotor oleh sampah orang orang yang mengunjunginya. 

Mulut Goa yang tersembunyi


        Tak terasa perjalanan kami sudah hampir sampai di mulut Goa dan cara masuk dan cara keluar masih sama yang harus kami lakukan yaitu dengan cara yang sangat unik yakni merangkak, kali ini bukan merangkak munndur tentunya namun merangkak maju, keindahan yang dimiliki oleh tempat ini tidak bisa saya gambarkan sedetail mungkin di tulisan ini. oleh karena itu saya sarankan kepada teman teman yang ingin menikmati keindahan tempat tersebut untuk mencoba untuk menjelajahinya sendiri, namun yang harus diingat adalah ''Jangan Pernah Meninggalkan Sampah" baik di tempat ini, ataupun tempat lain juga yang akan kalian kunjungi, 

''LESTARI''

No comments:

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pages